Hari telah beranjak dari gelapnya. Sayup kendaraan mulai terngiang di telinga sejak dinginnya subuh melata waktu hingga gradasi antara pekat menuju hangat sinar mentari pagi. Dalam dada berdegup kata, berpuisilah selagi masih ada imajinasi sebelum menua dan tumpul isi kepala yang tak sanggup menerima inspirasi. Hari mulai menerang dan sisa kopi semalam sebatas kenang.
Kumulai jalani apa saja yang ada...
Seperti biasa, kata pertama yang terngiang adalah namamu
Sempat kutolak dengan paksa hadirmu walau sebatas ingatan
Namun cinta telah tertanam layaknya mengakar dan layak tak tertukar dengan apapun itu
Dan tak mampu kupungkiri lagi...
Majasku telah menumpul
Apa yang terucap lewat tulisan kini terlukis bagai puisi-puisiku di usia belasan
Mungkin ini siklus yang terputar kembali
Memutar menuju saat pertama ku mencoba menulis lagu...